08 November 2008

Mudah-mudahan Khusnul Khotimah (Do'a)



Alur perjalanan hidup seseorang memang bermacam-macam, semua telah di tentukan oleh Allah SWT sesuai dengan syariatnya, beraneka ragam lika liku yang ditemui sedari insan tersebut lahir kedunia ini, kadang kebahagiaan,kesedihan,ujian,kisah-kisah tak terlupakan, yang tentu telah di berikan Allah sesuai dengan kemampuan manusia tersebut.

Jadi yakinlah bila kita diberikan suatu kebahagiaan,ujian,atau kesedihan sudah barang tentu kita akan mampu menghadapinya karna Allah sudah menentukan bahwa kita akan sanggup menerimanya,tinggal dari keyakinan kita sajalah hal itu semua mampu untuk kita hadapi.

Hari minggu ini saya nganter istri ikut seminar sertifikasi guru di universitas mercubuana, kebetulan saya tidak ikut istri masuk ruangan seminar, dari rumah saya sudah berniat untuk sholat dhuha di masjid minimal musholla universitas tersebut. Didepan musholla terdapat panjat dinding (wall climbing)milik mapala kampus tersebut bertuliskan SWATALA yang saya tebak mungkin itu nama pencinta alam kampus ini.

Sesaat fikiran saya flash back kebelakang ... alur kehidupan saya ...

Kegiatan outdoor adalah hal yang sangat saya cintai semenjak saya SMP dulu, sampai sekarang, kebetulan tetangga saya salah satu anggota MAPALA salah satu universitas di jakarta,sejak SMP saya sudah diajak olehnya untuk ngecamp buka tenda di tengah kebun jati di kampung saya sampai dikenalkan ke alam sebenarnya beberapanya gunung salak gunung gede pangrango sewaktu SMA dulu.

Memasuki masa kuliah kecintaan terhadap alam semakin menjadi-jadi, saya sempat ambil formulir pendaftaran MAPALA di kampus, tapi apa daya Allah belum berkenan ...
salah satu syarat adalah ijin orang tua berikut lampiran keterangan dan tanda tangannya, orang tua tidak setuju dengan keinginan saya ini ...

Tapi hidup harus terus berlanjut ...

Dekat dengan rumah ada sebuah pesantren orang tua menyarankan saya untuk pesantren sambil kuliah (pulang kuliah) santri kalong namanya yang nyantrinya cuma habis magrib sampe jam setengah sembilan trus pulang ngga nginep.

Beberapa tahun kedepan ...

Selesai kuliah saya buka usaha kecil-kecilan, kegiatan alam tetap berlanjut dengan tetap menjadi simpatisan MAPALA di kampus maupun jalan sendiri, terbukti beberapa gunung di jawa barat dan jawa tengah sempet dikunjungi + kegiatan outdoor lainnya ...

Mudah mudahan Khusnul Khotimah ...

Sampai sekarang saya semakin dekat dengan pesantren tempat saya nyantren dulu, nganter kyai adalah kegiatan rutin saya minimal 2 x sebulan entah nganter ceramah, nganterin anak2 nya, nganterin urusan pesantren, ngga bisa jadi orang alim (kyai/ulama) ngga pa pa jadi supir + murid kyai, he he ...

Dan sekarang ...

Menikmati kehidupan, bersyukur atas jalan hidup yang di berikan, tidak menyesali setiap keinginan yang tidak tercapai, lanjut menjalani kegiatan hidup sesuai dengan syariatnya ...

Tiap hari belajar enterpreneur, seminggu sekali baca wirid bareng ngaji kitab kuning di pesantren, tiga bulan sekali kegiatan outdoor ...

Mudah-mudahan Khusnul Khotimah ...

06 September 2008

Kuasai dan Kendalikan Dirimu



Hal yang paling sulit kita lakukan adalah mengalahkan musuh terbesar kita yaitu diri kita sendiri. Jika kita sudah dapat mengalahkan dan mengendalikan diri kita sendiri, berarti kita sudah mencapai tahap kecerdasan spiritual yang tinggi. Mengalahkan dan mengendalikan diri sendiri bukanlah sebuah peristiwa, tetapi sebuah kebiasaan dan kedisiplinan yang harus kita lakukan setiap hari.

Ada sebuah syair yang ditulis oleh penulis anonim, berjudul An Indian Prayer berbunyi demikian: ”I seek strength. Not to be greater than my brother, but to fight the greatest enemy, myself……” Syair ini saya temukan tertempel di kamar belajar seorang teman saya di Amerika Serikat dua puluh tahun yang lalu. Penyair ini telah menemukan rahasia terbesar kehidupan ini, yaitu pertempuran terus-menerus dengan dirinya sendiri.

Seseorang disebut ”kuat” ketika dia sudah menemukan cara untuk mengalahkan dan mengendalikan dirinya. Inilah hal yang kita sadari sangat kurang dalam diri kita. Mengalahkan dan mengendalikan diri, menurut JFC Fuller, seorang jenderal pada angkatan bersenjata Inggris, menunjukkan kebesaran karakter seseorang. Mengendalikan orang lain hanya menunjukkan sebagian kebaikan karakter kita. Jadi salah satu komponen yang penting dalam memperkaya kehidupan spiritual kita adalah pengendalian diri, yaitu mengalahkan musuh terbesar yaitu diri kita sendiri.
Lao Tsu, filsuf Cina, pernah mengatakan, ”Menundukkan orang lain membutuhkan tenaga. Menundukkan diri kita sendiri membutuhkan kekuatan.” Ternyata lebih mudah bagi kita untuk menundukkan orang lain daripada menundukkan diri sendiri. Seperti kita ketahui bahwa salah satu anugerah Tuhan kepada manusia adalah kesadaran diri (self awareness). Hal ini berarti kita memiliki kekuatan untuk mengendalikan diri. Kesadaran diri membuat kita dapat sepenuhnya sadar terhadap seluruh perasaan dan emosi kita. Dengan senantiasa sadar akan keberadaan diri, kita dapat mengendalikan emosi dan perasaan kita.

Namun seringkali kita ”lupa” diri, sehingga lepas kendali atas emosi, perasaan dan keberadaan diri kita. Oleh karena itu agar dapat mengendalikan dan menguasai diri, kita harus senantiasa membuka kesadaran diri kita melalui upaya memasuki alam bawah sadar (frekuensi gelombang otak yang rendah) maupun suprasadar melalui meditasi (red : Klo muslim berdzikir).

Dimensi Pengendalian Diri

Mengalahkan diri sendiri memiliki dua dimensi yaitu mengendalikan emosi dan disiplin. Mengendalikan emosi berarti kita mampu mengenali/memahami serta mengelola emosi kita, sedangkan kedisiplinan adalah melakukan hal-hal yang harus kita lakukan secara ajeg dan teratur dalam upaya mencapai tujuan atau sasaran kita.

a. Mengendalikan Emosi
Kecerdasan emosi merupakan tahapan yang harus dilalui seseorang sebelum mencapai kecerdasan spiritual. Seseorang dengan Emotional Quotient (EQ) yang tinggi memiliki fondasi yang kuat untuk menjadi lebih cerdas secara spiritual. Seringkali kita menganggap bahwa emosi adalah hal yang begitu saja terjadi dalam hidup kita. Kita menganggap bahwa perasaan marah, takut, sedih, senang, benci, cinta, antusias, bosan, dan sebagainya adalah akibat dari atau hanya sekedar respons kita terhadap berbagai peristiwa yang terjadi pada kita.
Menurut definisi Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence, emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sedangkan Anthony Robbins (penulis Awaken the Giant Within) menunjuk emosi sebagai sinyal untuk melakukan suatu tindakan.
Di sini dia melihat bahwa emosi bukan akibat atau sekedar respons tetapi justru sinyal untuk kita melakukan sesuatu. Jadi dalam hal ini ada unsur proaktif, yaitu kita melakukan tindakan atas dorongan emosi yang kita miliki. Bukannya kita bereaksi atau merasakan perasaan hati atau emosi karena kejadian yang terjadi pada kita.

b. Menguasai Diri dan Kedisiplinan
Kata ‘disiplin’ atau ‘self-control’ berasal dari bahasa Yunani, dari akar kata yang berarti ”menggenggam” atau ”memegang erat”. Kata ini sesungguhnya menjelaskan orang yang bersedia menggenggam hidupnya dan mengendalikan seluruh bidang kehidupan yang membawanya kepada kesuksesan atau kegagalan. John Maxwell mendefinisikan ‘disiplin’ sebagai suatu pilihan dalam hidup untuk memperoleh apa yang kita inginkan dengan melakukan apa yang tidak kita inginkan. Setelah melakukan hal yang tidak kita inginkan selama beberapa waktu (antara 30 – 90 hari), ‘disiplin’ akhirnya menjadi suatu pilihan dalam hidup untuk memperoleh apa yang kita inginkan dengan melakukan apa yang ingin kita lakukan sekarang!! Saya percaya kita bisa menjadi disiplin dan menikmatinya setelah beberapa tahun melakukannya.
Berikut saya mengutip tulisan John Maxwell tentang disiplin diri yang merupakan syarat utama bagi seorang pemimpin:
All great leaders have understood that their number one responsibility was for their own discipline and personal growth. If they could not lead themselves, they could not lead others. Leaders can never take others farther than they have gone themselves, for no one can travel without until he or she has first travel within. A leader can only grow when the leader is willing to ‘pay the price’ for it.
Dalam buku Developing the Leader Within You, John Maxwell menyatakan ada dua hal yang sangat sukar dilakukan seseorang. Pertama, melakukan hal-hal berdasarkan urutan kepentingannya (menetapkan prioritas). Kedua, secara terus-menerus melakukan hal-hal tersebut berdasarkan urutan kepentingan dengan disiplin.

Berikut beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk meningkatkan disiplin diri:

1. Tetapkan tujuan atau target yang ingin dicapai dalam waktu dekat.
2. Buat urutan prioritas hal-hal yang ingin kita lakukan.
3. Buat jadwal kegiatan secara tertulis (saya selalu menempelkan jadwal kegiatan saya di dinding depan meja kerja saya di rumah).
4. Lakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang kita buat, tetapi jangan terlalu kaku. Jika perlu, kita dapat mengubah jadwal tersebut sesuai dengan kondisi dan situasi.
5. Berusahalah untuk senantiasa disiplin dengan jadwal program kegiatan yang sudah kita susun sendiri. Sekali kita tidak disiplin atau menunda kegiatan tersebut, akan sulit bagi kita untuk kembali melakukannya.

Melalui pengendalian emosi, penguasaan diri dan kedisiplinan kita dapat lebih memahami diri kita dan bagaimana cara memanfaatkan potensi luar biasa dalam diri kita sehingga kita menjadi manusia yang lebih cerdas secara spiritual. Namun, semua ini tidak akan ada artinya jika kita tidak melakukan sesuatu. Kita harus melakukan sesuatu untuk mencapai kehidupan yang berkelimpahan dan berkualitas, karena hanya kita sendiri yang dapat mengubah kehidupan kita.

Dikutip dari :
Aribowo Prijosaksono (email:aribowo_ps@hotmail.com) dan Roy Sembel (http://www.roy-sembel.com) adalah co-founder dan direktur The Indonesia Learning Institute – INLINE (http://www.inline.or.id), sebuah lembaga pembelajaran untuk para eksekutif dan profesional.